Senin, 13 Januari 2014

Aku pun Sama Seperti Mereka


pernahkah kau muda, mama? :'(

aku pun sama seperti mereka

Minggu, 12 Januari 2014

Banyak Sih, tapi ...

banyak sih kata yang pengen ditulis, eh ditik, tapi pas buka laptop buka komputer, mau nulis apa yak? lupa

banyak sih tempat yang pengen dijelajahin, tapi males perginya karena harus mandi pagi-pagi

banyak sih temen buat diajak maen tapi lagi pada sibuk, ah mungkin lagi asik sama temen-temen barunya

banyak sih yang lalu *ehm (boy gitu yak), aduh lupakan biarkan mereka bahagia sama yang baru

s.d.a, siap-siap nerima undangan pernikahan aja dan pergi ke resepsinya entah dengan siapa

s.d.a, langgeng setelah usai sama gue, semoga gue cepet-cepet ketemu sama calon imam buat seumur idup amin yak, langsung lamar kek, nikahnya ntar aja pas udah kuliah sama kerja dua taunan gitu yak #apasih -_- tapi aminkan!

banyak sih yang pengen dilakuin, tapi males mulai

banyak sih foto-foto baru, tapi males ngapload

banyak sih yang full face, tapi  entah kenapa pengen yang ini aja


kayaknya pas gitu yak sami idup gue yang sekarang, belom pullll

ohhhhh, i need someone now :3














Rabu, 25 Desember 2013

10.59 pm

pikirku dengan yang baru
namun masih menunggu
siapakah?
relakan guntingan wol
hampir setengah rajutan
akan indah nampaknya, bila dilanjutkan
sehelai rajutan cantik
sekarang apa daya?
maafkan!

Ini Desember

aku kehilangan warna di atas kanvas itu
aku kehilangan kata di atas kertas itu
maukah kau mencarikannya?

kuinginkan sesuatu
kugapai sesuatu
namun tak ada rasa
aku kehilangan cita
maukah kau mencarikannya?

semuanya berlalu
aku berjalan melayang, seperti dihalau angin
kemana arah?
maukah kau mencarikannya?

rencana bersama mereka (yang baru)
agenda sudah bersama mareka
kegiatan tak berasa bersama mereka
dimanakah elegi?
maukah kau mencarikannya?

harapkan kembali pada mereka (yang lama s.d. sekarang?)
namun nol besar
aku lupa, mereka sudah sibuk
dimana keluangan?
maukah kau mencarikannya?

masalahnya cuma satu
hati tak pandai memilih
hati tak pandai merasakan
dan hilang
maukah kau mencarikannya?

ini Desember,
maukah kau mencarikannya?




Rabu, 13 November 2013

Lika-liku Mencari Sinyal Wifi


Perasaan gado-gado itu ketika ada tugas kelompok, bagian nyusun dan ngerapiin makalah. Kelengkapannya ada di email. Harus nyari wifi. Modem dipake di asrama ga connect. Terpaksa harus ke rektorat. Jalan dari lantai tiga, menuju lantai dua, nyampe lantai satu, lewati pos satpam cewek, lewati kantin,  jalan di bawah asrama cowok, lewati pos satpam cowok, jalannnnn (dibaca dengan panjang) menuju jalan, jalannya lagi diperbaiki, becek penuh tantangan, jalannnnnn, sampai di rektorat. Duduk di bawah pohon. Baru deh dapet wifi :3






Kamis, 29 Agustus 2013

Menuju Gerbang Mimpi Part I


Hari itu, Senin, 27 Mei 2013. Sangat menegangkan. Aku yakin semua pelajar se-Indonesia yang mendafarkan diri sebagai peserta SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) pun merasakan hal yang sama.
Kabarnya, pengumuman SNMPTN akan diumumkan pada jam 6 sore. Masih siang, aku pantengin info-info di socmed maupun website resmi  SNMPTN. Dan pengumuman pun dimajukan menjadi lebih cepat. Pukul 4 sore.
Begitu lambat jarum jam untuk menunjukkan angka 4. Hari itu, aku mencuci pakaian namun belum dijemur. Maka ku putuskan untuk menjemur pakaian-pakaian tersebut. Sudah pukul 16.05 WIB. Semakin menegangkan.
Sudah asar, namun aku belum sembahyang. Ku ambil air wudhu, bersujud pada Sang Penulis Skenario Kehidupan, berdoa untuk gerbang masa depan.
Sudah tak enak diam rasanya. Mondar-mandir. Padahal sudah pukul 16.15 WIB. Pulsa modem pun sudah diisi. “Ya Allah, berikan yang terbaik menurut-Mu.” Aku meminta mama untuk menemaniku di kamar saat membuka pengumuman. ‘aku tak ingin mengecewakannya’.
Awalnya, mama tak mengizinkanku untuk melanjutkan studi ke Unpad. Ku mengadu pada-Nya. Berkali-kali. Dalam sepetiga malam memohon petunjuk atas apa yang harus ku utamakan untuk dipilih.

Mimpi 1
Pengumuman SNMPTN di lab.biologi (karena kelasku sedang direnovasi). Siswa-siswi yang mengikuti SNMPTN diberikan amplop. Aku bermimpi temanku diterima di UI, ITB, UPI, dsb. Tapi aku tidak mendapatkan amplop dari bunda -Bu Yayah-. Aku heran. “Bu, kenapa Resti ga dapet amplop?”
“Yang sabar ya nak, kamu tidak lolos SNMPTN,” jawab bunda.
“Oh, yaudah bu ga apa-apa kok J”.
Entah mengapa, di mimpi itu aku tidak merasa sakit hati kecewa atau perasaan marah dan sedih lainnya. Aku merasa tenang. Namun, aku takut rasa tenang itu muncul karena saat try out snmptn di Smanpat aku lulus di jurusan dan univ impianku, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. Aku tak ingin kejadian tiga tahun lalu, saat aku santai dan merasa yakin akan diterima di sekolah mengeah atas negeri yang kuinginkan. Kejadian dengan air mata kesedihan dan kekecewaan pada diri sendiri.

Mimpi 2
Aku telah dinyatakan diterima di universitas yang nyatanya menjadi univ pilihan ke-2 ku. Namun aku tak senang. Aku berlari di hutan gelap tanpa pasti. Hutan basah. Entah akan kemana kaki ini melangkah. Karena aku berlari, dan terus berlari.

Mimpi 3
Aku tidak memilih Universitas Padjadjaran sebagai univ pilihan pertama. Di depan mataku sendiri, teman-teman yang memilih Unpad sebagai pilihan pertama tersenyum bahagia. Ada yang lulus di psikologi, sosiologi, dsb. Namun aku hanya mematung menyaksikan kebahagiaan mereka. Aku sangat menyesal. Sesal karena tak melih Unpad sebagai pilihan pertama.

Itulah mimpi,  mungkin petunjuk dari Yang Maha Esa. Allah SWT. Awalnya mama tak mengizinkanku memilih Universitas Padjadjaran sebagai pilihan pertama. Karena mama khawatir akan pergaulanku kelak. Selalu ku berusaha untuk meyakinkan mama bahwa aku tak akan terbawa arus negatif. Mama masih tak mengizinkan. Yasudahlah, apa daya bila seorang ibu tak mengizinkan. Karena ridho mama, adalah ridho Allah SWT.
Pendaftaran sudah ku finalisasi. Ku terus mencoba meyakinkan mama. Aku meminta mama untuk ikut memohon petunjuk pada-Nya. Esok harinya, pukul 06.00 WIB, mama ke kamarku. Aku sedang bermain komputer. Online tak pasti. Malas rasanya untuk pergi ke sekolah. Padahal Ujian Nasional sebentar lagi.
Tak disangka, mama datang membawa kabar gembira yang sangat aku tunggu walaupun hanya dalam khayalan. Namun ini nyata. Mama mengizinkanku memilih Universitas Padjadjaran sebagai pilihan pertama. Segera ku hubungi bunda untuk meminta tolong membatalkan finalisasiku.
Di sekolah, setelah finalisasi dibatalkan, ku ubah pilihan universitasnya. Unpad yang tadinya menjadi pilihan kedua, ku naikkan menjadi pilihan pertama. Lega rasanya. Tinggal menyerahkan semuanya pada yang di atas. Walau nampaknya Bunda kurang setuju, lebih tepatnya tak yakin bila aku akan diterima di Unpad.  Beliau mengataka,”la haula aja neng.”
Aku pun ingat, saat di ruang guru aku ditanya oleh seoranh guru mata pelajaran eksak. “Resti mau dilanjutkan kemana nanti?”               
“InsyaAllah ke Unpad pak.”
“Jurusan apa?”
“Ilmu komunikasi”
“Oh, ntar jadi anak clubbing dong. Kenapa ga ke UI aja? Di sana juga kan ilmu komunikasinya bagus.”
“Nggak pak, pengennya ke Unpad.”

Astaghfirullah sekali ya -_- Kan ku buktikan, bahwa aku tak akan menjadi apa yang “beliau” bayangkan bila aku lulus ke Fikom Unpad.
Saat itu juga, aku sangat senang membaca catatan dari pengalaman sang motivator yang eksis di twitter, dia mahasiswi sastra jerman Unpad. Aku tanya padanya, bagaimana bila aku lintas jurusan, awalnya sih pengen dapet motivasi gitu. Eh, malah kalimat ini yang ku dapat “jarang banget yang lulus saat dia lintas jurusan, itu sih resiko kamu ntar.” Deg. Tak patah semangat bagiku untuk mencari informasi terkait lintas jurusan. Aku sangat takut. Tapi aku sangat ingin.
Tak ingin ku biarkan mimpi itu hanya menggantung. Tak ingin sama sekali. Aku ingin menjadi pencetak sejarah. Karena sekitar 4 tahun terakhir, tak ada yang lulus ke Unpad melalui jalur undangan atau SNMPTN ini. Dan sejarah hanya dibuat oleh orang yang berani atau nekad. Sepertinya aku termasuk kepada orang yang nekad.

Aku mencari contact yang dapat ku telpon untuk menanyakan masalah lintas jurusan. Ku telah dapatkan deretan angka yang dapat menghubungkan dengan lawan bicara di sana. Namun, susah telepon sekolah sedang rusak. Ku coba, coba, dan coba lagi. Belum berhasil. Yasudahlah, aku nekad saja lintas jurusan. Bismillah.

Baiklah, kembali pada cerita stay di depan computer sekitar jam setengah lima sore bersama mama dan adikku. Ku buka dengan perasaan tak menentu. Ku baca dan ku eja kata demi kata, huruf demi huruf. 

Terasa seperti mimpi. Ku cium kedua tangan mama, ku salami bapak, nenek, kakek, dan adikku. Air mata bahagia pun terjatuh. Alhamdulillahirabbil’alamin. Man jadda wajada.
               

Minggu, 16 Juni 2013

Episode Mirip Seleb

Lahhh kenapa postingan ini judulnya episode mirip seleb? soalnya banyak yang bilang gue mirip inilah itulah. tapi masih mending sih dibilang miripnya sama seleb-seleb kece #yeyeyelalala

1. Mirip Sivia Blink

kok mirip sivia azizah sih? ini sih yang bilang gatau siapa. pas SD kan lagi musim-musimnya idola cilik ya. terus gue suka banget sama yang namanya Sila (sekarang jadi personil blink juga ya kalo ga salah?) and Sivia. Nah, mamanya deuit (temen  gue pas SD) bilang kalo gue tuh mirip Sila. wkwkwk 
sumpah deh rasanya gue fly banget dengernya. tapi pas gue ngaca in the mirror, kayaknya gue lebih mirip sama Sivia deh, sama-sama tebel alisnya. tapi gatau juga sih wkwk


2. Mirip Momo Geisha

Gue sih sebenernya ga suka sama Momo Geisha. Gatau kenapa -_- Padahal ketua kelas aksel angkatan gue  (read: andika rakasiwi pratama) ngefans banget sama tante momo. hoaaaa
nah, yang bilang gue mirip momo geisha temen-temen aksel angkatan 3 and  Nadya Silmi Hiyari . kaka kelas pas SMP and jadi best friend pas SMA. wkwk
periode gue dibilang mirip momo pas gue kelas 3 SMP ampe SMA kelas 1.


3. Mirip Delima JKT48


Sekarang tuh anak cowok lagi pada tergila-gila sama anak JKT48. ih apa bagusnya sih? =,=
Yang bilang gue mirip delima JKT48 namanya Aprinal Afgani and Aprisal Afagani. si kembar nyebelin yang juga member JKT48 and ga pernah ketinggalan nonton teaternya -_-


4. Mirip Cindy Yuvia JKT48

Yang bilang gue mirip cindy yuvia anak JKT48 ini namanya  kakak otok alias Randita Swara Wimayoga. pas maen di rumah teh kiki dia liat-liat foto di hape gue. dan nemu foto di atas, katanya sih mirip Cindy Yuvia. Oh yaudah sih, lumayanlah imut-imut tuh si Cindy. wkwk


5. Mirip Rossa


Nenek gue bray, nenek gue yang bilang cucunya mirip teh ocha -_- hadeuuhhh mirip apanya coba? gue pernah ketemu teh ocha waktu di dahsyat dannnn emang ga ada mirip-miripnya sama gue. kayaknya gara-gara liat rambut gue pas ikal deh makanya dibilang mirp teh ocha ckckck


6. Mirip Gita Gutawa
WHAT? mirip gita gutawa? | iyeeeeeee | thanks banget, siapa yang bilang?| gue | wkwkwk | -_-


Terserahlah sekarang-sekarang and in the last mereka pada bilang gue mirip inilah itulah, liatin aja beberapa tahun ke depan orang bakal bilang ke orang laen kalo sodaranya atau temennya  atau pacaranya atau siapanya aja mirip gue, Resti Octaviani, a professional reporter in the world. yeahhhhh. AMIN :')