Sabtu, 13 Juni 2015

Angka Gerak, Gila!





Angka


Jarum


Gerak



Kedua dalam tingkat dua
Tertawa berpadu harmoni

Dia bilang
Aku, gila!

Mereka, satu, dua, ....
Dalam muslihat yang rapi

Kalau tak gini, gimana?
Kecil hati dengan cakrabuana





Jatinangor, 11 Juni 2015
dalam siang gundah angka

Senin, 11 Mei 2015

Surat Keempat Belas


“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)


Schedule board penuh. HP banyak kontak narasumber. Di lantai berceceran TOR buat liputan. Kamera di kasur. Recorder di atas tas.  Laptop standby di sisi kiri kasur. Modem nyolok terus. Ketiduran dan internet masih on. 1 GB cuma buat sehari.


Mata hitam berkantung. Sarapan dibablasin ke makan siang.

Tempat cucian menggunung. Balik pintu baju kotor menggantung. Sepatu kotor bikin males pake. Koran ga ditilep rapi. Kadang cuma beli aja, “ga sempet” baca.

Udah semester empat aja nih. Tahun lalu dioje, sekarang ngoje. Mantep sih, “plus plus”.

Rasanya kesel juga ketika sadar susunan kata hasil getting ga sesuai ekspektasi. Kok gini ya? Anti klimaks. Ga greget.

Capek juga ya liputan mulu tapi “masih gini-gini aja”. Ngapain deh harus dateng ke pengadilan segala? Ngapain deh harus becek-becekan di pasar?

Tapi semuanya lenyap. Ketika (mungkin) sudah tau “posisi” yang nyaman.

Di mana bisa jalan-jalan, bisa melihat seni yang masuk ke hati. Semuanya ga melulu soal “hasil” tapi “memproses”. Ga melulu soal “menyaksikan” tapi “menyimak”. Ga melulu soal “terjawabnya pertanyaan saat wawancara” tapi “mendengarkan dan memahami”.

Ada satu tempat, yang punya magnet tersendiri. Mungkin menyerupai laboratorium yang kuiingankan dulu. Mungkin ada senyum yang air mukanya membuat nyaman. Mungkin semua rubrik dapat digarap di sana. Sebuah kampung kreatif di dalam gang berukuran 3 meter seberang Hotel Sheraton, Bandung.

Mural. Patung. Poster. Seni 3D. Tari. Musik. Lukisan.

Teringat piala pertama saat TK, lomba mewarnai. Sertifikat-sertifikat lukis dan graffiti saat SMA. Tak banyak memang. Tak ahli memang.

Tiba-tiba rindu suasana rumah dengan meja penuh kertas  gambar, car air, crayon, koas berbagai ukuran, palet, dan “jajarannya”.

Sesuatu yang dibuat dengan hati. Memainkan waktu yang berkualitas. Pasrah dengan tangan yang mengayun memegang batang kayu berujung bulu halus.



Namun, semuanya berubah. Pikiran semraut. Kertas yang berceceran. Dering pesan, telpon, chat, hanya membuat waktu 24 jam seperti 24 menit.

Tapi bukankah itu bidang yang dicita-citakan sejak sekolah dasar? Saat Pak Tambun bertanya mengenai cita-cita. Mengenai studi kasus dengan perumpamaan ketika sedang meliput di daerah perang. Jurnalistik.

Kenapa tidak mencoba untuk mengelaborasikan keduanya? Jurnalistik dan seni. Semoga bisa lebih “menikmati”.

Terima kasih atas skenario yang indah. Skenario yang tak akan terpikirkan oleh manusia. Skenario yang sudah ada, di Lauhul Mahfuzh.

Jalani, resapi, nikmati…















Kosan Putri, 11 Mei 2015
08.04 WIB



Jumat, 01 Mei 2015

Selagi "Mabuk"



Jangan biarkan batang itu
Jangan hisap
Jangan

Rangkulan mana?
Rangkulan yang mana?

cerca nista
sudikah?


"gong"
"gong"

"dok"
"dok"

"duk"
"duk"

"tuk"
"tuk"

samara
belum mekar belum



"Yes, pergi," katanya.
segenap pergi

"wah, dia jauh," ujar dia.
yang lain dengan sistemnya

jangan ganggu
dia mabuk berahi
dulu juga mencacat

selagi saja
haha!!!






Jatinangor, 30 April 2015
00.38 WIB


Rabu, 29 April 2015

Tangis Pagi

manja yang menggelayut
seperti lilin dan air
maaf

sirup dan air ada di warung tetangga, ternyata
aku ingin lihat lekungan
ingin lagi
Tuan..

kembalikan kanvas
olesan bulu-bulu halus
rindu

jatuh
hati
di atas
hati

tak ada gravitasi
memang
tapi tarikan

kembali..


maafkanuntukhatiyangtakbisakutebaksendiri.taktegaakutakuttapiakutakseharusnya.maaf




Kamar kost, 29 April 2015
7.55 WIB





Strawberry in the morning -Cijambu, Sumedang, West Java. (Resti Octaviani)

Selasa, 28 April 2015

Ingin Melihat Senyum


Awalnya, datang untuk tugas deskripsi tempat. Mata kuliah Penulisan Berita Khas. Ditemani dia yang selalu sabar dan menemani beberapa liputan. Makasih ya ({})


Kunjungan kedua, bersama teman SMA. Untuk tugas dengan mata kuliah yang sama, PBK. Kali ini berita dengan topik KAA. Namun, saya mengambil angle yang berlokasi di tempat itu. Berkeliling, melihat goresan warna, bentukan benda, dan menjadi sesuatu yang dulu ku cintai.

Warna
Goresan
Bentuk
Akhir, terserah mau dilepas di mana
di dinding?
di langit-langit kamar?
di atas meja?
di atas laci?
suka-suka

Siang itu, undangan dari Pak Rahmat Jabaril sampai di telinga.
Sore dengan rintik hujan, diskusi filsafat dan seni.
Di ruangan terbuka, "bekas caffe yang tak laku" katanya.



Aku bertemu dengan dia, orang yang sempat aku tulis karena pensosokannya dalam artikel yang terpajang di daun pintu

Siapakah Qiyam Krisna Aji? yang tak goyah pada hukum-hukum bentuk dengan pemacu dari teriak tawa dan gerak anak-anak.
"Kekuatan imajinasi seolah tak jemu-jemunya melabrak tanda-tanda Urban dengan mengeksplorasi media-media temuan sebagai media baru dalam penciptaannya. Batas gang, tanda kota dan hal-hal yang berkaitan dengan ruang pembatas, pada akhirnya diruntuhkan mutlak oleh garis, warna, dan bentuk imajinasi Qiyam."
"kini ku tahu kau tak pernah menatap matahari,
berlarilah terus di bawah sinar rembulan ,
berlarilah untuk sajak2 tak bersuara."

Aku juga bertemu dengan teman Qiyam,
mirip Kak Agung Faperta yang super nyebelin selalu ganggu tidur aku yang di mana aja, dan muka yang dipadukan dengan sosok Viki/Eki/Rifky teman sekelasku. Ada paduan sosok Eki temanku saat sekolah dasar juga, dia Eko.


Dan tempat itu, selalu mempunyai alasan untuk kembali.
Mungkin penelitian untuk mata kuliah penelitian kuantitatif jurnalistik atau MPK 1 pun akan di sana. Mungkin MPK 2 di sana.
Mungkin untuk sidang u
smas data yang akan diperoleh di sana.
Mungkin untuk skripsi dua tahun yang akan datang pun di sana.




























Dago Pojok
dan sebuah senyuman











Jatinangor, 28 April 2015
16.18 PM


Rabu, 01 April 2015

Pejamkan



Mata terpejam, hati yang menahan
Bukan otak dan tubuh yang diam

Mata terpejam, menerawang nanar
Bukan suasana yang gelap

Mata terpejam, menikmati mimpi
Bukan bunga tidur

Dunia roboh,
Yang ia dengar, bukan yang mereka dengar
Yang ia lihat, bukan yang mereka lihat
Yang ia ucap, bukan yang mereka ucap
Yang ia pikir, bukan yang mereka pikir

Mereka bilang,
"ia di atas awang"
"ia terlelap"

Namun...
Ia berjalan
Halau bisikan





Tol Padalarang, Bandung
31 Maret 2015
20.56 WIB

Senin, 23 Maret 2015

Ku Beri Tahu, Nyonya

Egomu, ambisimu, dan amarahmu 
kau tumpahkan ke mangkuk itu, Nyonya?
Tak bisa kau lihat jejeran gelas  
yang belum terisi penuh?
Bisakah kau bantu ambilkan air, Nyonya?
Lihatlah bayangmu, kau sedang di atas awan
Hati-hati terjatuh!
Untuk mengguyur sebuah kota pun perlu siklus, Nyonya.







Jatinangor, 22 Maret 2015
20.29 WIB