Selasa, 17 April 2018
15 Tahun Jejak Petualang (HUT JP)
Pagi itu, 2 November 2012, pergelangan kaki ku cedera saat skipping. Beberapa minggu mengenakan sandal ke sekolah. Bukan manja, nyata sakitnya.
Rutin melakukan olahraga skipping merupakan caraku untuk menambah tinggi badan, selain berenang setiap hari Minggu, dan minum susu berkalsium tinggi (korban iklan haha). Tinggi badanku pada saat itu adalah 157 cm, target yang hendak dicapai adalah 165 cm pada usia 22 tahun (lulus kuliah).
Angka 165 merupakan persyaratan menjadi presenter Jejak Petualang. Saat itu, aku masih lepas pasang khimar. Jadi, tak masalah jika ada persyaratan “tidak memakai hijab”.
FYI, dalam Islam hijab itu “pakaian” yang menutup aurat sesuai syariat Islam, jilbab itu gamis, dan khimar itu penutup kepala.
Setelah lulus SMA, aku melanjutkan studi di Fikom Unpad, jurusan Jurnalistik. Di bangku kuliah, aku bergabung dengan Klub Aktivis Pegiat dan Pemerhati Alam (KAPPA). Sebuah unit kegiatan mahasiswa dengan dasar keilmuan komunikasi untuk diaplikasikan dalam kegiatan alam bebas. Wah, pas! Linear dengan cita-citaku. Walau saat itu sudah tidak bercita-cita menjadi seorang presenter Jejak Petualang karena tiga hal. Tinggi badanku mentok di 160cm, aku memutuskan untuk berkhimar, dan rasanya aku tidak se camera face itu untuk muncul di JP. haha
Selain KAPPA, aku juga bergabung dengan Korps Protokoler Mahasiswa. Tempat ku berlatih untuk bekerja secara profesional karena selain mengurus kegiatan internal organisasi, juga harus menjadi protokoler dalam beberapa kegiatan yang ada di Unpad.
Jurnalistik, KAPPA, dan KPM. Ketiganya membentuk sebuah cita-cita baru. Harus menjadi reporter TV, setelah itu menjadi Public Relations di sebuah perusahaan media, lalu menjadi PR di sebuah perusahaan multinasional atau BUMN. Kalo ga jadi reporter TV (di salah satu dari tiga stasiun TV yang terlihat masih independen), berarti harus langsung jadi PR.
Usai sidang Agustus 2017 lalu, istirahat. Menikmati kelulusan walau belum revisi. Dan secara tak sengaja melihat informasi rekrutmen reporter di TV yang ku incar. Langsung gaspol. Malam takbir menuju lebaran Idul Adha di Dunkin Donuts Jatinangor bikin CV sampai ketiduran dan dibangunin Abang Dunkin pukul 6 pagi di hari lebaran (untung saat itu lagi datang bulan, jadi ga nyesel, tapi malu). LOL
Alhamdulillah bisa ikut tahapan rekrutmen di TV yang ku pengen. Mata berkaca-kaca pas liat profil perusahaan yang ada di Jalan Kapten Tendean. Setelah test di sana, malamnya ada email masuk dari HR stasiun TV berita saudaranya TV yang pertama, masih di Kapten Tendean. Satu Bapak. Kalo yang kedua ini, emang lebih keren karena bekerja sama dengan turner international. Ga sengaja apply, tapi HR nya hubungin aku via linkedin. Setelah itu, aku nunggu satu TV yang emang sampai saat ini belum rekrutmen buat reporter. Sambil nunggu, coba-coba apply di salah satu stasiun TV Biro. Namun, belum rezekinya walau ada yang sudah sampai tahapan casting. Ada yang suruh nunggu ampe tahun pilkada selesai, ada juga yang tidak bisa menerima karena aku memakai simbol agama. Kalo alasan khimar ini emang udah diwanti-wanti sama seniorku yang jadi news anchor di salah satu TV berita sih. Tapi penasaran aja gitu pengen nyoba.
Finally, aku ga jadi presenter JP, ga jadi reporter, tapi jadi PR di sebuah media yang menyebarkan berita baik. Ternyata Allah ngasih loncatan karier. Alhamdulillah…
Mengutip kalimat di salah satu drakor, "Lagipula, melewati hidup ini adalah pertama kalinya bagi kita semua."
Mengikhlaskan sesuatu itu memang sulit tapi Allah lebih tahu mana yang terbaik dan dibutuhkan hamba-Nya. Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Senin, 07 Desember 2015
Kartiniku
Karya Resti Octaviani
Lembar
demi lembar dari sebuah buku yang berkisah tentang seorang entertainment muda
yang sangat menginspirasi bagi semua muslimah sudah menunjukkan halaman 178.
Namun dalam setiap paragraf yang kubaca terselip sepi tak terkira.
‘Begitu
sepinya hidup tanpa sebuah persahabatan yang abadi, semua teman-temanku yang
dulu selalu berkumpul untuk berbagi suka duka dan sharing tentang hal apa
pun kini berubah, persahabatan ini
menjadi sebuah perkumpulan dari para akhwat yang berpasangan. Walaupun pasangan
yang dimaksud adalah antara dua akhwat yang bersahabat dengan sangat. Miris,’ ucapku
dalam hati.
Kubaca paragraf selanjutnya. Dan kembali berfikir, ‘mungkin
aku terlalu egois sehingga tak mampu mempertahankan persahabatan seperti
mereka. Walau memang pada dasarnya aku lebih menyukai persahabatan yang murni.
Tak ada seka untuk membatasi dengan teman-teman lainnya.’
“Assalamua’laikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
Pengumuman kepada seluruh siswa siswi SMA Harapan Negara wajib mengirimkan satu
sampai dua siswi putri sebagai perwakilan kelas untuk memperingati hari
Kartini. Dan berkumpul di aula sepulang sekolah. Terima kasih,” suara
pengumuman dari fackajing yang dipasang di seluruh kelas membuyarkan
lamunanku.
Teman-temanku
pun mengajukan aku dan Dewi untuk mewakili kelas XI IPA 7. Awalnya aku menolak
karena kegiatan ini sangat mendadak. Aku pun tak tahu apa yang harus kulakukan
nanti. Namun, semuanya aku serahkan kepada Sang Mahasutradara.
Setelah
shalat dzuhur, aku menerima SMS dari Dewi,
‘Afwan ukh, ana gak bisa kumpul ke
aula. Soalnya harus latihan nasyid. Afwan ya…’
Karena
sedang tidak ada pulsa, jadi SMS Dewi tidak ku balas. Hampa langkahku terkalahkan
dengan amanah yang telah diberikan teman-teman sekelas. Sehingga mengantarkan
kaki ini sampai ke aula.
“Assalamu’alaikum,”ucapku
ketika bergabung dengan teman-teman lainnya.
“Wa’alikumsalam,
“ jawab mereka.
Aku
pun duduk di kursi yang paling depan. Di sana
ada temanku yang sudah kuanggap menjadi kakak sendiri, dialah Tami. Nampaknya
ia sedang asyik mengobrol dengan ketua KIR. Hanya sapaan ‘hai’ yang keluar dari
mulut kami.
Dunia
terasa semakin sepi Ya Allah. Kembali ku buka buku yang sedari tadi ku baca.
‘Hanya buku
yang menjadi sahabatku, dan Engkaulah
sahabat setiaku Ya Allah.’
Beberapa menit
kemudian datanglah dua orang wakasek kesiswaan. Dan beliau berdua menyampaikan
maksud mengumpulkan kita semua di aula ini. Lomba Pidato. Ya, lomba pidato
mengenai hari Kartini, karena sekarang tanggal 21 April.
‘Ya ampun,
apa yang harus aku sampaikan? Aku lupa dengan sejarah hari Kartini,’ batinku.
Namun,
untungnya aku masih bisa berdiskusi terlebih dahulu dengan adik kelas ku.
Sehingga ada sedikit gambaran.
“Peserta ke 7,
silahkan,” panggil salah seorang kesiswaan sekaligus juri dari perlombaan ini.
‘Bismillahirramannirrahim,’
ucapku dalam hati. Kubawa buku yang tadi kubaca ke depan aula untuk ikut serta
tampil di depan juri dan teman-teman dari setiap perwakilan kelas.
Kata
demi kata mengalir begitu saja dari mulutku, ‘walau sesekali pasti tampak
kelihatan berfikir. Hehe…’
Tokoh
dalam buku yang berkisah tentang seorang entertainment muda yang sangat menginspirasi
bagi semua muslimah pun ku jadikan contoh sebagai RA Kartini di tahun 2012,
selain kepala sekolah dan ketua ekstrakurikuler di SMA Harapan Negara yang
merupakan dari kaum hawa juga.
Seluruh
peserta telah tampil. Dan menampilkan kemampuan berpidato dadakan dengan
semaksimal mungkin. Walau semua persiapannya serba dadakan.
Tibalah penutupan dari salah seorang juri. Beliau menceritakan sejarah hari
Kartini dengan sangat memukau. Tak ada seorang pun dari peserta yang memaparkan
sejarah hari Kartini serinci beliau.
“Siapa
Kartini 2012?” tanya beliau.
Semua
menggeleng. Mulutku pun membisu. Padahal saat berpidato di depan tadi, aku
menyebutkan beberapa orang Kartini 2012. Namun, hatiku mencegah untuk
mengucapkannya kembali.
Kebisuan
pun berubah menjadi kegaduhan dalam diskusi yang terbisikkan. Ya, semua saling
berbisik, sehingga menimbukan was wes wos yang memenuhi aula.
“Kartini
kita adalah Ibu kita masing-masing,” ucap beliau dengan penuh wibawa dan juga
keibuan.
“Ibu
kita adalah Kartini yang paling berjasa dalam hidup kita. Seorang pejuang yang
rela mentaruhkan nyawanya saat melahirkan kita. Seorang dokter yang sangat
ampuh menyembuhkan kekalutan kita. Seorang perawat yang setia menemani kita
disaat sakit. Kecintaannya tak akan habis walau ia telah tiada. Namun,
sepanjang masa. Ibu kita yang masih ada di dunia ini tak akan lelah melantunkan
do’a untuk kesuksesan anaknya. Dan Ibu kita yang telah tiada, akan selalu
melatunkan do’a di jannah-Nya.”
Sungguh,
kata-kata beliau telah memanah kalbu ini. Panah yang menjadi pencerahan atas
redupnya kalbu yang kadang lupa akan jasa orang-orang terdekat di sekitar kita.
Aku
tak sanggup menahan air mata ini. Ku ambil handphone untuk mencurahkan
semuanya.
Astaghfirullah,
Astaghfirullah, Astaghfirullah. Ya Allah, sungguh menyesal rasanya di hari
Kartini ini hamba tak membawa Mama ke dalam pidato tadi. tak bermaksud hati ini
untuk melupakan jasa-jasanya. Ya Rabbal Izzat, jangan samarkan nama beliau di
balik nama orang-orang yang sama sekali tidak mengenaliku. Amin Ya Rabbal
Alamin…
SELESAI
*tulisan ini dibuat pada bulan Mei 2012, tapi terlalu lama mengendap di draft akhirnya baru diposting.
Dunia Maya “Rasa” Dunia Nyata
Oleh Resti
Octaviani
Rabu, 2 Desember 2015, untuk pertama kalinya
saya menginjakkan kaki di Aula Bale Padjadjaran 4. Walaupun sudah kuliah lebih
dari dua tahun di Kampus Unpad Jatinangor, tapi kali ini pertama kalinya saya
memasuki area Bale Padjadjaran yang berada di kawasan Pedca. Lokasinya ada di
seberang halaman FISIP. Di sana, terdapat petunjuk arah bertuliskan “Pedca”. Ada beberapa toko khusus
yang menjual merchandise Unpad, bank
BRI, food court, dan sebagainya.
Namun, jika hendak ke Bale Padjadjaran 4 kita hanya perlu berjalan lurus dari
Pedca hingga akhirnya ada belokan ke kanan, di mana area Bale Padjadjaran
berada.
Pagi
itu, jarum pendek jam menunjukkan angka 9 dan jarum panjangnya menunjukkan
angka 3. Memasuki bale, nampak antrian panjang di meja registrasi Seminar
Kebebasan Berpendapat di Media Sosial yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa
Sejarah, Unpad. Seminar ini merupakan pengganti perkuliahan Jurnalisme Online.
Di poster yang tersebar, tertera waktu kegiatan dimulai pada pukul 09.00 WIB –
12.00 WIB. Namun, hingga lebih dari satu jam dari waktu yang tertera, kegiatan
belum mulai juga. Hmm lagi-lagi
“ngaret”.
Aula
Bale Padjadjaran 4 pun terlihat penuh. Mahasiswa Unpad dari berbagai jurusan
datang untuk mengikuti seminar bertema etika ini. Menurut panitia, jumlah
peserta yang datang melibihi perkiraan. Akibatnya, banyak peserta tidak
kebagian goodie bag-termasuk saya.
Nasi box untuk makan siang pun dibagikan kepada peserta yang datang karena
panitia kehabisan snack.
Pembicara
pada seminar tersebut ada Nunik Maharani (Staf Pengajar Fikom Unpad), Intan
Anggita (Blogger menujutimur.com), dan Adi Marsiela (Ketua Aliansi Jurnalis
Independen “AJI” Bandung). Namun, pada kenyataannya, Adi Marsiela tidak
diposisikan sebagai pembicara, tapi sebagai moderator. Selain itu, ada
pembicara dari pihak sponsor yang tidak tertera pada poster. Dia dari Gressnews,
Agustinus Edy Kristianto.
Seminar dibuka oleh dua
orang mahasiswi sejarah. Sang moderator, Adi Marsiela, menceritakan beberapa
kasus terkait kebebasan berpendapat di media sosial terlebih dahulu. Ada 118
orang yang terjerat hukum karena pelanggaran Informasi dan Transaksi Elektronik
(ITE) dengan rentan waktu dari tahun 2008–2015. Sebagian delik aduan berasal
dari mereka yang mempunyai kekuasaan atau jabatan, dengan terlapor masyarakat
kecil yang tak punya apa-apa dan hanya bisa berkeluh-kesah di media
sosial.
Pembicara pertama yaitu
Nunik Maharani. Riuh rendah sorak sorai mahasiswa Jurnalistik yang datang
menyambut Mpok Nunik, sapaan bagi dosen jurnalistik berkacamata dengan rambut
pendek kurang dari sebahu, ketika akan berbicara dalam seminar tersebut.
Menurutnya, internet diciptakan untuk membentuk “ruang”. Apakah disebut ruang
diskusi? Entahlah, masih menjadi perdebatan.
Sebagian besar, yang aktif
di internet adalah kaum muda urban yang berada di pulau Jawa. Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) perlu ada
untuk mengatur etika di dunia maya. Mpok berharap dengan adanya internet, kebebasan berita jangan sampai
terbawa arus rezim yang berkuasa saat ini. UU ITE harus melindungi hal netizen untuk bersuara dan demokrasi.
Pembicara kedua, seorang blogger dengan domain
menujutimur.com, Intan Anggita. Ia merupakan wanita kelahiran Ciamis, tumbuh
berkembang di Ciamis, mengenyam pendidikan di Ciamis, tapi memiliki blog yang
membuka mata kita untuk melihat kekayaan Indonesia bagian Timur, bukan Ciamis.
Bagi Intan sebagai seorang
traveller bloger, menulis merupakan tanggung jawab moral setelah melakukan
suatu perjalanan. Segala keluh kesah, kritik, dan kekesalan akan infrastruktur
atau kebijakan yang ada ketika melakukan perjalanan, ia tumpahkan pada tulisan.
Bukan tulisan yang bersifat negatif, tapi tulisan-tulisan yang menceritakan
Indonesia bagian Timur apa adanya dengan kenaturalannya.
Di saat menulis, kita harus
memikirkan dampaknya. Menulislah dengan dampak positif. Tahan diri jika melihat
sesuatu yang tak sesuai dengan harapan, jangan sampai marah atau menceritakan
kekesalan di media sosial, karena apa yang ada di media sosial akan
menggambarkan kepribadian pemiliknya. Tahan diri dulu, jangan reaktif!
![]() |
| Seminar Kebebasan Berpendapat di Media Sosial, Bale Padjadjaran 4, Kampus Unpad Jatinangor. (02/12) |
Dari beberapa pembicara
yang ada, saya setuju dengan pendapat Intan Anggita, Adi Marsiela dan Mpok
Nunik. Dunia maya saat ini semakin nyata. Aturan dan rambu-rambu yang ada
hampir mirip dengan dunia nyata. Sudah menjadi kewajiban kita, sebagai insan
berbudi, menjaga segala tingkah laku dan tutur kata, baik di dunia nyata maupun
di dunia maya. Kini, dunia maya terasa dunia nyata.
Jumat, 27 November 2015
Mengalahkan “Ular Berbisa” di Bojongkokosan
karya Resti Octaviani
“TEMBAAAAAAAAAK!”
DOR!
DOR! DOR!
Minggu sore, sekitar pukul 15.00 WIB, dalam suasana Ramadhan, 9 Desember
1945. Masyarakat siap sedia melawan sekutu yang melewati Jalan Bojongkokosan,
Sukabumi, Jawa Barat. Pemuda yang belum genap 20 tahun itu membawa lima senjata
hasil rampasan dari Jepang. Ia luncurkan peluru ke arah sekutu. Namanya Satibi.
Seorang prajurit Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
“Ini bukan perang, kami hanya
mencegat sekutu,” kata Satibi. “Tentara sekutu ini terdiri dari Gurkha. Tentara
bayaran asal Nepal, Bombay, Australia, dan negara lainnya. Jadi bukan hanya
tentara Inggris,” papar prajurit TKR tersebut.
Dari informasi yang didapat, akan ada 20 truk sekutu yang akan melewati
kawasan Bojongkokosan. Namun, nyatanya ratusan kendaraan perang yang datang.
Konvoi yang melibatkan tentara bayaran tersebut memanjang hingga 12 kilometer
di antara tebing-tebing celah pegunungan.
Didahului oleh pengawalan tank sherman, panser wagon, brencarrier dan
iring-iringan 150 buah truk pengangkut perbekalan APWI, konvoi sekutu
meliuk-liuk menelusuri celah-celah tebing, menuju Bandung lewat
Bogor-Sukabumi-Cianjur.
Kendaraan pendahulu berhenti dihadang perintang jalan. Mereka terjebak
lubang dan bambu yang disiapkan pejuang
di jalan yang diapit oleh dua tebing di Bojongkokosan. Di atas
perbukitan dipenuhi TKR dan rakyat yang menempati lubang-lubang persembunyian.
Dari sanalah mereka menyerang, menguasai tebing, menghujani dengan bom
molotov ke arah kendaraan konvoi.
Serangan yang terjadi disusun
oleh TKR dan Letnan Kolonel Eddie Soekardi. Pertempuran heroik itu melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Tua,
muda, laki-laki, perempuan. Organisasi masyarakat seperti Pesindo, Hizbullah,
Barisan Banteng, Angkatan Pemuda Indonesia (API), semua menyerang sekutu.
Seorang ibu membawa alu, siap menghadang sekutu. Ketapel dijampe Kiai,
bambu yang diruncingkan, bensin dibakar, lalu dilemparkan ke arah sekutu.
Taktik yang digunakan adalah hit and run.
Namun, tak semua masyarakat memahami taktik perang. Ada yang berlari lurus
menghindar serangan sekutu. Ada pula yang bersembunyi dengan posisi menungging.
Hanya kepalanya saja yang bersembunyi. Akhirnya , 28 pejuang gugur.
Satibi membawa mayat-mayat pejuang Indonesia ke Taman Pahlawan di Jalan
Baros Kota Sukabumi. Di sana, mayat-mayat dimakamkan secara massal. Tanpa
disholatkan, tanpa dimandikan. Hanya dibungkus daun pisang.
Perlengkapan senjata yang digunakan sekutu lengkap dan canggih. Komandan
Resimen TKR Sukabumi Letnan Kolonel Eddie Soekardi menyebutnya “ular berbisa”. Kepala ular tersebut adalah tank sherman,
tengkuknya: panser wagon, badan sampai ekornya: truk-truk, dan diperkuat oleh
ruas-ruas tulangnya: brencarrier.
Komandan Batalion, Jats, cedera berat dalam serangan pertama. Sebuah
kendaraan hancur lebur, kendaraan lainnya banyak yang rusak berat. Terutama
sopir-sopir, berjatuhan dari atas truk, tewas tertembak secara mengerikan.
Kabut tebal mengaburkan penglihatan ketika sekutu memuntahkan bom.
Peluru dan persenjataan yang dugunakan masyarakat Bojongkokosan habis.
“Alhamdulillah, atas pertolongan
Allah, hujan lebat dan angin puting beliung datang. Menyelamatkan pihak republik untuk mundur.
Kita jadi bisa kabur saat sekutu menyerang,” ucap veteran Sukabumi yang kini
berusia 89 tahun itu.
Berkat pertolongan Tuhan Yang Maha Esa, hujan, kabut, dan angin tersebut
membuat bumerang bagi sekutu. Tercatat, 50 tentara sekutu tewas, 100 terluka
dan 30 lainnya hilang saat pertempuran di Desa Bojongkokosan, Kecamatan Parungkuda,
Kabupaten Sukabumi.
Akibat sekutu merasa terkalahkan, esok harinya Pasar Cibadak dibombardir
oleh Royal Air Force (RAF). Perang udara terbesar di Jawa pun terjadi. The greatest air attack. Luapan emosi
Inggris karena gengsi sebagai pemenang dalam Perang Dunia II.
Pertempuran tersebut menggugurkan 45 pejuang dan rakyat Sukabumi.
Peristiwa Bojongkokosan kemudian menjadi pemicu awal dalam peristiwa yang
dikenal dengan Perang Konvoi dan merupakan Perang Konvoi Pertama (The First Convoy Battle) tanggal 9 hingga
12 Desember 1945. Sedangkan Perang Konvoi Kedua terjadi pada tanggal 10 hingga
14 Maret 1946. Pencegatan konvoi di Bojongkokosan itu juga diyakini sebagai
peristiwa pembuka Bandung Lautan Api pada 24 Maret 1946.
Satibi berhasil selamat karena pengalaman perangnya. Ia merupakan
prajurit perang yang cukup ‘terpakai’ oleh Eddie Soekardi.
Ia mantan tentara PETA ketika pemerintahan Jepang. PETA diubah karena
Jepang kalah pada Perang Dunia II, diganti menjadi TKR. Sebenarnya Satibi tak
ingin berkecimpung lagi di dunia kemiliteran. Ia seorang masyarakat biasa,
tetapi akibat adanya revolusi kemerdekaan, mantan tentara PETA dan Kenir
ditarik lagi oleh Soedirman. Untuk menghadang beberapa peperangan yang terjadi
setelah kemerdekaan.
Dulu, rumah Satibi di pinggir Jalan Bojongkokosan. Namun, karena sering digunakan tempat persembunyian
saat pertempuran, rumahnya hancur. Kini ia tinggal di sebuah rumah belakang
museum Bojongkokosan. Rumah itu dihuni oleh dua kepala keluarga; Satibi, dan
anaknya yang paling bungsu, Wawan Suwandi.
Rumah itu berukuran sekitar 6x4 meter. Terasnya beralaskan tanah. Ada
kursi dengan kondisi dudukan berlubang dan meja yang akan menyambut tamu
datang, masih di teras. Di dalam rumah, ruang utama dan ruang keluarga hanya
beralaskan karpet. Bukan karpet permadani yang empuk dan tebal, tetapi karpet
berbahan karet yang tipis.
Satibi sempat menjadi pengelola museum Bojongkokosan. Namun ia
mengundurkan diri dari pengelolaan karena sudah mulai menua dan tidak menerima
gaji dari pemerintah daerah pada beberapa tahun ke belakang . Pengelolaan
museum pun diteruskan oleh anaknya, Wawan Suwandi, dengan gaji Rp
250.000/bulan.
“Saya mengolala museum Bojongkokosan karena ini adalah amanat besar.
Amanah dari Bapak untuk meneruskan ikut mengelola Bojongkokosan walaupun dengan
gaji seperti itu. Sekarang, saya dipercaya oleh Pemda (Pemerintah Daerah) untuk
mengelola beberapa fasilitas di Bojongkokosan dan mendapatkan gaji 600 ribu
perbulan,” kata Wawan.
“Apa sih saya, hanya anak seorang prajurit beda sama anak seorang Letkol
atau Jenderal, jadi kita mesti banyak kerja keras,” tambah anak veteran
tersebut.
Tahun 2013, Kodam Siliwangi yang bekerja sama dengan PT Reindo
menjanjikan akan merenovasi rumah Satibi. Namun, hingga kini, teras rumahnya
masih beralaskan tanah, dindingnya berbilik bambu.
Wawan berusaha mencari informasi mengenai janji Kodam Siliwangi dan PT
Reindo yang akan merenovasi rumah Satibi. Hasilnya nihil. PT Reindo pun tak
ditemukan di mana alamat lengkapnya, tak jelas jenis perusahaan apa.
“Itu
perusahaan fiktif,” kata Wawan.
| Foto bersama Pak Satibi. (15/05) |
| Kondisi rumah Pak Satibi di Desa Bojongkokosan, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. (15/05) |
Sumber tulisan:
Wawancara langsung narasumber pada tanggal 15 Mei 2015 dan 17 Juni 2015
- - Satibi
- - Wawan Suwandi
Iskandar, Yoseph dkk. 1997. Pertempuran Konvoy
Sukabumi-Cianjur 1945-1946. Jakarta: Sukardi LTD
***Bapak Satibi meninggal dunia pada Kamis, 26
November 2015. Sebelumnya dirawat di RS. Sekarwangi Kab.Sukabumi karena
komplikasi.
Sabtu, 13 Juni 2015
Angka Gerak, Gila!
Angka
Jarum
Gerak
Kedua dalam tingkat dua
Tertawa berpadu harmoni
Dia bilang
Aku, gila!
Mereka, satu, dua, ....
Dalam muslihat yang rapi
Kalau tak gini, gimana?
Kecil hati dengan cakrabuana
Jatinangor, 11 Juni 2015
dalam siang gundah angka
Senin, 11 Mei 2015
Surat Keempat Belas
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)
Schedule
board penuh. HP banyak kontak narasumber. Di lantai berceceran TOR buat
liputan. Kamera di kasur. Recorder di atas tas.
Laptop standby di sisi kiri kasur. Modem nyolok terus. Ketiduran dan
internet masih on. 1 GB cuma buat sehari.
Mata hitam
berkantung. Sarapan dibablasin ke makan siang.
Tempat
cucian menggunung. Balik pintu baju kotor menggantung. Sepatu kotor bikin males
pake. Koran ga ditilep rapi. Kadang cuma beli aja, “ga sempet” baca.
Udah
semester empat aja nih. Tahun lalu dioje, sekarang ngoje. Mantep sih, “plus
plus”.
Rasanya kesel
juga ketika sadar susunan kata hasil getting
ga sesuai ekspektasi. Kok gini ya? Anti klimaks. Ga greget.
Capek juga
ya liputan mulu tapi “masih gini-gini aja”. Ngapain deh harus dateng ke
pengadilan segala? Ngapain deh harus becek-becekan di pasar?
Tapi
semuanya lenyap. Ketika (mungkin) sudah tau “posisi” yang nyaman.
Di mana
bisa jalan-jalan, bisa melihat seni yang masuk ke hati. Semuanya ga melulu soal
“hasil” tapi “memproses”. Ga melulu soal “menyaksikan” tapi “menyimak”. Ga
melulu soal “terjawabnya pertanyaan saat wawancara” tapi “mendengarkan dan
memahami”.
Ada satu
tempat, yang punya magnet tersendiri. Mungkin menyerupai laboratorium yang
kuiingankan dulu. Mungkin ada senyum yang air mukanya membuat nyaman. Mungkin
semua rubrik dapat digarap di sana. Sebuah kampung kreatif di dalam gang
berukuran 3 meter seberang Hotel Sheraton, Bandung.
Mural.
Patung. Poster. Seni 3D. Tari. Musik. Lukisan.
Teringat
piala pertama saat TK, lomba mewarnai. Sertifikat-sertifikat lukis dan graffiti
saat SMA. Tak banyak memang. Tak ahli memang.
Tiba-tiba
rindu suasana rumah dengan meja penuh kertas
gambar, car air, crayon, koas berbagai ukuran, palet, dan “jajarannya”.
Sesuatu
yang dibuat dengan hati. Memainkan waktu yang berkualitas. Pasrah dengan tangan
yang mengayun memegang batang kayu berujung bulu halus.
Namun,
semuanya berubah. Pikiran semraut. Kertas yang berceceran. Dering pesan,
telpon, chat, hanya membuat waktu 24 jam seperti 24 menit.
Tapi
bukankah itu bidang yang dicita-citakan sejak sekolah dasar? Saat Pak Tambun
bertanya mengenai cita-cita. Mengenai studi kasus dengan perumpamaan ketika
sedang meliput di daerah perang. Jurnalistik.
Kenapa
tidak mencoba untuk mengelaborasikan keduanya? Jurnalistik dan seni. Semoga
bisa lebih “menikmati”.
Terima
kasih atas skenario yang indah. Skenario yang tak akan terpikirkan oleh
manusia. Skenario yang sudah ada, di Lauhul Mahfuzh.
Jalani,
resapi, nikmati…
Kosan Putri, 11 Mei 2015
08.04 WIB
Jumat, 01 Mei 2015
Selagi "Mabuk"
Jangan biarkan batang itu
Jangan hisap
Jangan
Rangkulan mana?
Rangkulan yang mana?
cerca nista
sudikah?
"gong"
"gong"
"dok"
"dok"
"duk"
"duk"
"tuk"
"tuk"
samara
belum mekar belum
"Yes, pergi," katanya.
segenap pergi
"wah, dia jauh," ujar dia.
yang lain dengan sistemnya
jangan ganggu
dia mabuk berahi
dulu juga mencacat
selagi saja
haha!!!
Jatinangor, 30 April 2015
00.38 WIB
Langganan:
Postingan (Atom)









