Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Oktober 2011

Kisah Cinta Mrs. Natrium dengan Mr. Chlor

karya Climacus Desilentio

AWAL JANUARI 2009
“Apakah itu cinta…apakah itu cinta…yang mampu melengkapi lubang di dalam hati….” Suara lagunya letto yang minggu ini kujadikan nada dering ponselku terus berbunyi, aku menggeliat malas dan mencoba membuka mataku yang terasa sangat berat. Tapi tiba-tiba kantukku mendadak hilang saat kulihat nama khlor kekasihku terpampang di layar ponsel
“Pagi honey…!” terdengar suaranya renyah di seberang sana
“Ada apa sih , pagi-pagi dah ganggu orang tidur ?” jawabku sedikit merajuk
“Lho…kau lupa ya nat,kita kan pagi-pagi mau jalan-jalan”
“Jalan-jalan kemana?”
“Ya biasa…pagi ini kita kedapur ibu-ibu untuk melejatkan masakan mereka, siangnya kita ke demo masak rudy choerudin”
“Kemakanan mulu, aku bosan nih, gak ikut ah”
“Lho kok gitu,terus gimana kalau anak -anak manusia itu gondokan semua? kan kita juga yang repot. Lagian kita kan pasangan yang paling serasi sekampung SPU nat, masa kita jalannya masing-masing, gak seru ah”
“Baiklah…baiklah Mr chlor”
Kututup telponku, kupandangi kamar minyak tanahku, “ahh…” aku berteriak . Sudah sejak lama aku jadian sama khlor,dia unsure yang paling ganteng yang pernah kulihat di kampung kami sistem periodik unsur di gang 3 blok V11 A dengan nomer rumahnya 17, bahkan kami mendapat peredikat pasangan paling serasi tahun ini.
Awalnya kami ketemu di lautan luas. Waktu itu dia senang sekali mentap senja. Dan jadilah kami pasangan yang serasi. Kami sering jalan berdua ke dapur-dapur penduduk atau ke pabrik-pabrik industri. Kami juga kadang mengenang perjumpaan kami di lautan lepas, ahh…indahnya. Tapi ada satu yang membuat hati ini kadang terbakar cemburu , ada kabar burung kalau dia selingkuh dengan molekul air. Bahkan menurut kabar terakhir yang aku dengar mereka telah menikah dan mempunyai anak yang bernama HCl, aku ingin melabrak air kalau perlu membunuhnya tapi aku tidak punya bukti makanya kalau aku dekat dengan dia aku langsung marah apalagi si oksigen yang masih sodara si molekul air suka mengompori aku,membuat kemarahanku langsung naik beberapa derajat.

AKHIR JANUARI 2009
Mataku sudah sembab tapi airmataku masih terus saja mengalir, hatiku sakit…sakit luar biasa, khlor kekasihku ternyata benar-benar menghianati cintaku, dia ternyata sudah menikah dengan molekul air dan mempunyai anak HCl dan ternyata selama ini juga dia punya affair dengan saudara-saudaraku seperti kalsium (CaCl2 ) , kalium (KCl) , barium (BaCl2) mereka itu berbohong di belakangku
Dasar mata keranjang!!!!
Aku ingat waktu itu, dia kekasihku khlor (apa masih pantas aku memanggilnya kekasih?) mengakui semua perbuatanya setelah tahu aku pernah memergokinya waktu dia di sebuah laboratorium jalan bersama. Dengan bantuan kelalaian manusia aku hampiri molekul air, aku marah padanya karena dia telah merebut khlor dariku. Aku berkelahi dengannya dan hasil perkelahian itu terjadilah kebakaran di tambah adanya oksigen yang terus memanasiku maka kemarahnku makin menjadi dan habislah laboratorium itu terbakar oleh kemarahanku
Aku pergi pada khlor dengan penuh kemarahan mempertanyakan alasannya kenapa dia selingkuh di belakangku
“Apa aku kurang sempurna di matamu khlor, sampai-sampai kau tega melakukan ini semua, awalnya aku kira ini hanyalah gosip para manusia lab itu tapi ternyata kau…kau memang benar-benar menghianatiku” semprotku sambil menangis.
“Semua ini kulakukan karena aku sayang kamu nat,” jawabnya.
“Apa kamu bilang? sayang aku? kamu selingkuh dan menikah dengannya karena sayang aku?”
“Iya nat, kau itu begitu sempurna di mataku, kau mempunyai sifat-sifat yang khas makanya aku tidak menikahimu karena aku takut nanti kau mengandung sehingga merusak kecantikanmu.Aku menikahi molekul air dan mempunyai anak Hcl itu tidak lain dengan satu tujuan .Kau tahu…kata para manusia lab itu kecantikanmu mempunyai warna khas beda dari unsur-unsur yang lain akan bisa terlihat oleh semua orang, asalkan ada senyawa lain yang bisa membantumu dan senyawa yang bias membantumu itu tidak lain adalah HCl anakku, si Hcl kecil akan membantumu melakukan uji nyala maka warna cantikmu itu dapat terlihat , apa kau tidak senang ? terlihat cantik dan di puja banyak orang” katanya panjang lebar smbil tersenyum
Untuk beberapa saat aku terdiam betapa baiknya dia, betapa dalam cintanya tapi jauh di lubuk hatiku aku masih merasa sakit padanya dan diam-diam aku bersumpah aku tidak akan memaafkan molekul air dan oksigen seumur hidupku,itu sumpahku..!



PERTENGAHAN PEBRUARI 2009
Sejak tahu kekasihku khlor selingkuh di belakangku, akupun mulai main mata dengan nitrat (NaNO 3), dengan karbonat (NaCO3) , dengan adiknya khlor , bromine (NaBr) dan banyak yang lainnya. Kadang akupun suka jalan sendirian tanpa di temani kekasih-kekasihku , aku bersama adikku kalium kadang membantu manusia . Ion-ion ku ikut memelihara keseimbangan osmosis dan pH darah dalam tubuh manusia.

AKHIR PEBRUARI 2009
Di akhir pebruari ini aku melakukan uji nyala.Awalnya aku tidak mau tapi karena desakan Chlor kekasihku yang katanya sayang ma aku, aku pun akhirnya mau melakukannya. Kalau manusia mungkin uji nyala itu analoginya semacam oprasi plastik kali.Waktu di uji nyala dengan bantuan HCl anak dari kekasihku khlor ternyata aku menghasilkan warna kuning. Aku jadi bertanya-tanya kenapa aku bisa berwarna dan kenapa warnaku yang nampak hanya kuning padahal warna itu kan banyak .Eh setelah kutanyakan pada manusia lab ternyata ketika di panaskan elektron dalam diri aku mengalami eksitasi.Saat elektron kembali kekedudukan semula akan melepaskan energi berupa energi cahaya dengan panjang gelombang tertentu. Jika panjang gelombang berada dalam daerah sinar tampak maka terlihat nyala yang berwarna tertentu.Dan kebetulan yang terjadi padaku panjang gelombang yang berada dalam daerah nampaknya warna kuning.itulah sebabnya aku berwarna kuning padahal warnaku banyak sekali.

Kamis, 28 April 2011

Aku Bisa

Hmmmpppt….akhirnya UAN selesai juga. Aku pun pulang bareng bersama teman-temanku. Yaitu; Nisa, Uni, Fina, Fini, dan Dewi. Canda tawa keluar dari mulut kami semenjak keluar kelas sampai pintu gerbang sekolah. Namun tiba-tiba terdengar suara Bu Mifah –wali kelasku- memanggilku.

“Luna. Kemari!” Suaranya dari kejauhan.

Sebelum menghampiri Bu Mifah, kupandangi terlebih dulu wajah temanku satu persatu.

“Ada apa ya?” Tanyaku pada teman-teman.

“Gak tau. Samperin aja dulu!” kata Nisa.

Saat kuberjalan menghampiri Bu Mifah, hatiku pun bertanya-tanya ‘ada apa ini?’ Keringat dingin tiba-tiba menyerang diriku. Apalagi Pak Tambun –kepala sekolah SDku- berdiri di sampingnya. Pikiran-pikiran negatif seketika masuk ke otakku. ‘Apa mungkin pengisian LJKku salah?. Atau mungkin mereka akan menyidangiku terkait masalah yang kemarin terjadi?’. Kasus yang telah membuat nama baikku tercemar. Yang telah membuat sikap guru idolaku, yaitu Bu Mifah bersikap tak biasanya padaku. Dan itu terjadi karena aku tidak terlalu suka dengan sikap Bu Mifah yang menganak emaskan Tian. Tapi tidak hanya aku yang tidak suka dengan sikap Bu Mifah itu. Uni, Dewi, Nisa, Fina, Fini, dan Aditya juga tidak suka dengan sikap Bu Mifah. Namun diantara kami, Aditya lah yang paling tidak suka dengan sikap Bu Mifah.

Cowok pendek dan tengil. Ia tidak suka sikap Bu Mifah karena menurutnya tidak adil. Seorang Tian yang jago nyanyi bisa dianak emaskan oleh Bu Mifah. Sedangkan Aditya sendiri yang pernah menjuarai karate sampe tingkat provinsi tidak dianak emaskannya.

Aku takut disidangi karena masalah itu. Setibanya aku di depan Bu Mifah dan Pak Tambun, keringat dingin tidak hanya menyerangku, namun melumpuhkan saraf-sarafku.

“Ada apa ya Bu?” dengan kakunya kalimat itu keluar dari mulutku.

“Ini Pak anaknya,” kata Bu Mifah ke Pak Tambun.

“Oh ini anaknya. Ayo masuk!” ajaknya untuk masuk ke dalam ruang kepala sekolah.

Akhirnya aku pun masuk bersama Pak Tambun dengan diikuti Bu Mifah di belakang kami.

Sederet pertanyaan pun keluar dari mulut Pak Tambun. Dengan kakunya aku menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Pak Tambun satu persatu. Setengah jam pun berlalu. Tiba-tiba Pak Tambun mengajukan sebuah pertanyaan yang tak diduga-duga olehku, “bagaimana jika kamu masuk ke sekolah favorit yang kamu dambakan dan kamu masuk ke kelas Akselerasi?”

“Ya, syukur Alhamdulillah jika saya masuk. Tapi kalau saya masuk ke kelas Akselerasinya mungkin saya tidak akan mengambilnya.” Ucapku dengan kata-kata yang begitu lancarnya keluar dari mulutku.

“Mengapa kamu tidak akan mengambilnya?” tanya Pak Tambun.

“Hmmpt. Saya tidak akan mengambilnya karena bayaran Akselerasi itu lebih mahal dari kelas biasa. Sedangkan ekonomi keluargaku menengah ke bawah.” Jawabku dengan polosnya.

Suasana pun menjadi hening. Kupandangi Pak Tambun yang sedang manggut-manggut tanda mengerti. Namun tak lama , Pak Tambun melebarkan bibirnya sambil melirikku, lalu melirik Bu Mifah. Hatiku pun mulai bertanya-tanya. ‘Kenapa Pak Tambun senyum-senyum seperti itu?’

“Selamat Nak! Kamu masuk kelas Akselerasi. Selamat ya Nak! Dan terima kasih sudah membawa nama baik SD ini ke SMP yang kelak akan kamu diami.” Kata Pak Tambun sambil menahan haru.

Aku pun tersenyum dengan bangganya. Tapi aku berpikir, ”tapi kan Bu, Pak, bagaimana dengan biaya sekolahku nanti?”

“Itu masalah gampang Nak. Kami dan kepala sekolah SMP kamu nanti akan membicarakannya. Jadi, sekarang kamu belajar saja untuk menyongsong masa depan kamu kelak!” kata Bu Mifah sambil meneteskan air mata.

Aku pun tak kuat menahan semuanya. Air mata bahagia mulai membasahi wajahku. Acara cipika cipiki sambil berpelukan pun dimulai. Sungguh bahagianya. Akhirnya aku mendapatkan nama baikku kembali.

Dan setelah selesai acara itu, aku pun menghapiri teman-temanku yang setia menunggu dari tadi. Mereka keheranan melihatku menangis sambil senyum-senyum.

“Na, tadi kamu diapain Na?”

“Gak diapa-apain kok. Cuma...”

“Cuma apa Na”

“Aku masuk kelas Akselerasi di SMP favorit dambaanku,” kataku dengan semangatnya.

“Oyah? Selamat ya Na!”

Acara cipika cipiki sambil berpelukan pun terjadi kembali.

Sesampainya di rumah, aku pun langsung ngasih tahu mamaku kalau aku masuk kelas Akselerasi di SMP favorit yang aku dambakan. Namun tak ada wajah kaget di raut muka mamaku. Hanya ada senyuman simpul yang muncul dari bibirnya.

Aku pun betanya, “Mah, kok mamah gak kaget sih ngedengernya?”

Akhirnya Mamaku pun bercerita panjang lebar. Ternyata beliau sudah tahu sejak kemarin malam. Karena kepala sekolah SMPku terlebih dulu menelepon ke rumah sejak aku sudah terlelap tidur. Dan keesokannya Mama pergi ke sekolah untuk memberi tahu informasi ini ke Bu Mimah, wali kelasku. Namun, mungkin karena Bu Mifah dan Pak Tambun tak sabar memberitahuku, jadinya hari ini mereka memberitahuku. Itulah keterangan yang Mamaku berikan.

“Ughhhht, Mama....kenapa gak ngasih tau aku cih?” rengekku dengan manjanya.

“Kan kejutan.” Ucap Mamaku.

Lagi-lagi acara cipika cipiki sambil berpelukan pun terjadi kembali.

efSELESAIef

*Alhamdulillah,,,ternyata bayarannya (SPP) tidak semahal yang dibicarakan orang. Sebenarnya sama kaya SMA tapi lebih gede dikit ^_^

Sabtu, 30 Oktober 2010

Hari ini Boleh Menyesal Namun Hari Esok Akan Bersyukur (Insyaallah)

-->
(by: Echi Qirey/ Resti Octaviani)

-->
Kata ‘Diterima’ dan ‘Tidak diterima’ menemaniku selama di perjalanan menuju salah satu SMAN favorit tujuanku. Namun kenapa kata ‘Tidak Diterima’ lebih setia menemaniku? Apakah ini tandanya aku optimis? Optimis karena ‘tidak diterima’? Dan pesimis karena ‘diterima’? Entahlah...
Perjalanan selama (kira-kira) satu jam dari daerahku menuju daerah yang kutuju, karena macet terasa begitu lama. Terlebih aku pergi ke daerah yang kutuju itu bersama seorang temanku. Dan selama di perjalanan yang menegangkan itu, aku bersama temanku tidak banyak bicara. Kami lebih memilih diam, dan terfokus pada pikiran kami masing-masing.
Satu jam sudah. Kami pun sampai di tempat yang dituju. Salah satu SMAN favorit di kabupatenku. Hatiku pun megikuti ragaku yang terus berjalan ke lapangan SMA itu. Di sana terpampang beberapa lembar kertas yang ditempel di dua papan. Pertama kuamati sebentar papan yang di atasnya bertuliskan ‘Tidak Diterima’. Namun namaku tak ada. Lalu kuamati papan kedua yang di atasnya bertuliskan ‘Diterima’. Ternyata namaku juga tidak ada. Untuk yang kedua kalinya kembali kuamati secara teliti papan yang di atasnya bertuliskan ‘Tidak Diterima’.
‘Ya Allah,,,’ tiba-tiba persendianku terasa lemas sekali. Ternyata namaku terpampang di sebuah kertas pertama yang di atasnya bertuliskan ‘Tidak diterima’. Mataku terasa tertusuk besi api. Perih, sakit,... ‘Namun aku harus tegar, aku tak boleh nangis.’ Kugigit bibir bawahku untuk menahan itu. Senyum bahagia yang mengembang di bibir teman-temanku yang telah dinyatakan ‘Diterima’ pun membuat hatiku terasa teriris-iris.
Kakiku pun ingin segera pergi meninggalkan tempat itu. Sampai akhirnya, saat di gerbang sekolah kami bertemu dengan seorang guru. Guru itu bertanya kepada kami “bagaimana kalian keterima?” Semua temanku menjawab, “Alhamdulillah Pak keterima”. Hanya aku yang tidak. Lalu guru itu pun mengobrol sebentar bersamaku. “Bagaimana kalau kamu ikut tes di SMAN favorit lain?” tanya guru itu padaku. “Tapikan Pak, bukannya pendaftarannya sudah ditutup?” tanya balikku.
“Siapa bilang?”
“Hmmm,,,boleh.”
“Ya udah, kalau kamu mau, itu semua bisa diatur.”
Guru itu pun menelepon Bundaku di sekolahku. Dan guru itu juga menyuruhku untuk mengobrol dengan Bundaku itu di sekolahku.
Sesampainya di sekolah aku langsung menghampiri Bundaku. Dan kami mengobrol tentang sekolah menengah yang akan segera kutempati. Ternyata guru yang menawariku untuk masuk ke SMAN favorit lain itu menawarkan sebuah jalur khusus. Jalur yang ‘tidak akan’ diridhoi oleh Allah SWT. Bundaku pun menyarankan aku untuk menolak tawaran itu. Dan beliau menceritakan pengalamannya dalam bidang pendidikannya dulu. Beliau juga menceritan pengalaman adiknya yang sama denganku. Malah adiknya beliau juga dapat dikatakan lebih cerdas dariku –pendapatku sesuai dengan pengalamannya yang diceritakan Bunda-.
Selain menceritakan pengalaman-pengalaman yang dapat (tidak sedikit) menyembuhkan luka yang mengiris hatiku itu, beliau juga memberikan nasihat nasihatnya. “Hari ini boleh menyesal namun hari esok akan bersyukur (Insyaallah)”, kata yang akan selalu kuingat dalam benakku. Beliau juga menyarankan aku untuk tidak masuk ke SMAN favorit yang dapat menerimaku melaluli jalur yang ‘tidak akan’ diridhoi oleh Allah tapi melelui jalur tes yang Insyaallah akan diridhoi oleh Allah. Dan juga SMAN yang tidak termasuk SMAN favorit di daerahku. Karena di sana lebih besar peluang aku untuk diterima dan mendapatkan beasiswa atas prestasiku (amin).
Pada awalnya aku tidak mau daftar ke SMAN yang tidak favorit itu karena ‘gengsi’. Namun Bundaku kembali memberikan nasihatnya, “jangan gengsi untuk sekolah di sekolah yang tidak favorit. Justru di sekolah yang tidak favorit itu insyaallah kamu akan menjadi murid favorit. Karena tidak akan terlalu banyak saingan seperti di sekolah-sekolah favorit. Tapi itu semua Ibu serahkan kembali ke diri kamu.”
Sesampainya di rumah, Mamaku pun menasihatiku dengan nasihatnya yang dapat membuatku bangkit kembali –sama seperti Bundaku di sekolah-. “Ingat, perjuangan kamu baru satu langkah untuk mencari sekolah yang kelak akan kamu tempati. Masih banyak sekolah-sekolah lain yang belum kamu langkahi. Jadi jangan putus semangat dan harapan ya? Terus berjuang!” J
Thank for my mother, my teacher, my friends, and you all.
JJJ
Saya harap cerita ini dapat membuat teman-teman sekalian tetap semangat untuk menuntut ilmu. Terutama bagi kalian yang ,memiliki nasib sama seperti cerita itu, ‘TETAP SEMANGAT! MARI KITA PERANGI GENGSI KITA UNTUK MENUNTUT ILMU! BERJUANG!!!!’
*Silahkan tinggalkan komentar anda....



Alhamdulilla, tiga tahun kemudian setelah "menyesal" rasa syukur itu terpanjatkan :) 


Selasa, 12 Januari 2010

Maafkan Aku Sahabat Karya EcHi Qirey

(EcHi Qirey)


Pagi pun tiba. Kicauan burung mulai terdengar samar-samar membangunkan alam sambil mengikuti suara adzan nan syahdu. Matahari mulai menebarkan pesonanya dengan malu-malu. Aku pun bangun. Sekilas kulirik jam dindingku. Jarum panjang jam sudah menunjukkan angka lima. Sehingga memaksaku menjalankan aktifitas seperti biasanya.
Percikan air wudhu kubiarkan membasahi muka. Sungguh segar. Sehingga membuat hati orang yang melakukannya terasa damai.



“Via, mau ikut liat Bayu CS latihan band gak?” ajak Silfana, sahabatku yang tomboi.
“Kapan?”
“Sekarang. Ayo mau ikut gak?”
“Gak ah, males.”
“Oh. Ya udah sekarang aku berangkat ya,” pamit Silfana di depan pintu gerbang sekolah. Silfana pun pergi.
Dia berani pergi, walaupun hanya dia satu-satunya perempuan yang ikut melihat Bayu CS latihan. Karena, Silfana cukup dekat dengan Bayu CS, ditambah dengan sikapnya yang tomboi abis.
Walaupun sikapku yang menurut orang lain cool dan feminim, sedangkan sikap Silfana yang tomboi, tidak membuat persahabatan kami tidak kompak. Malah saling kompaknya, masalah percintaan pun kami kompak. Aku dan Silfana sama-sama mencintai Glendy yang rupawan, dan Bayu yang keren. Namun kekompakan itu tidak disengaja, sampai kadang-kadang kami suka saling cemburu kalau sedang dekat dengan salah satu dari mereka.
Oh iya,ada kejadian lucu yang diakibatkan dari sikap tomboinya Silfana. Saat itu, dia sedang berada disebuah toilet umum. Dan saat dia mau masuk ke toilet wanita, tiba-tiba penjaga toiletnya memanggil Silfana.
“De, itu tolet wanita bukan tolet pria. Tuh yang di sebelah kanan baru toilet pria, ” kata si penjaga toilet.
“Tapi kan aku ...,” belum selesai Silfana bicara, si penjaga toilet langung memotongnya.
“Gak ada tapi-tapian, anak cowok gak boleh masuk ke toilet cewek!” tegas si penjaga toilet.
Begitu ceritanya.
Selain Silfana, aku juga punya sahabat yang baik banget. Namanya Ica. Dia orangnya feminim. Sekarang, Ica lagi kesemsem sama si Joy, anak baru pindahan dari SMPN 1 Garuda. Selain itu, Ica juga mencintai Bayu.



Sekarang, di sekolah ada praktek renang. Dan biasanya SMPN 1 Cakrawala renang di kolam renang Tirta Sari, sama seperti sekarang. Sesampainya di kolam renang, aku dan teman-teman langsung berkumpul di lapangan kecil Tirta Sari untuk pemanasan. Seusai pemanasan, guru olahraga SMPN 1 Cakrawala pun melatih anak didiknya berenang di kolam renang. Pelatihan itu kurang lebih berlangsung setengah jam. Sedangkan lebihnya, dapat digunakan untuk bermain-main.
“Glen, kalau duduk jangan di pelosotan dong. Orang mau main nih. Ayo pergi!” usirku kepada Glendy.
“Kalau mau main, ya udah tinggal main aja!’
“Tapi kan ada kamu.”
“Ya gak apa-apa. Kita meluncur bersama aja,” ajak Glendy.
Tiba-tiba jantungku berdebar tak seperti biasanya. Tubuhku seketika terasa melayang ke udara. Persendianku mendadak lemas. Tidak biasanya Glendy bersikap seperti itu kepada perempuan.
“Hey, kok malah bengong? Mau gak?”
“Eh. Iya, iya mau,” jawabku sambil terbata-bata.
Akhirnya aku duduk di samping Glendy. Sebelum meluncur, kulirik teman-temanku di bawah. Ternyata semua pandangan terpusat kepada aku dan Glen. Termasuk Silfana. Namun Silfana langsung pergi sambil menatapku dan Glen tidak seperti biasanya. Tapi sudahlah, aku tidak mau memikirkan itu.
Byurrrrr. Suara air kolam yang diakibatkan oleh tubuhku dan Glen. Kami pun senyum-senyum sendiri. Sambil melirik yang ada di samping. Aku melirik Glen. Dan Glen melirik aku.
“Via, kesini!” kata Ica dan Anton.
“Ada apa?” tanyaku sambil menghampiri mereka.
“Mau ikutan main puter-puteran di air gak?” ajak Ica.
“Hmmm, boleh. Sama siapa aja?”
“Aku, Ica, dan Bayu,” kata Anton.
Permainan pun dimulai. Kami membentuk sebuah lingkarang kecil. Tangan kananku berpegangan dengan tangan Ica. Sedangkan tangan kiriku berpegangan dengan tangan Bayu. Pegangannya sungguh erat. Sesekali air membasahi mukaku, dan tak jarang masuk ke mata. Sehingga aku harus mengusapnya dengan telapak tanganku. Namun aku tak bisa mengusapnya dengan kedua tanganku. Karena tangan kiriku dipegang Bayu dengan eratnya.
Permainan pun usai. Di atas kolam, aku, Ica, Bayu, dan Anton duduk bersama. Tiba-tiba Bayu memandangiku dengan tidak biasanya. Sehingga membuat mataku membalas pandangannya itu. Pandangannya begitu tajam dan menghanyutkan. Serasa ada benih aneh yang dibawa pandangannya itu. Aku pun jadi teringat waktu kelas 8. Bayu menembakku untuk menjadi pacarnya.



“Silfana tunggu! Kamu kenapa sih?”tanyaku kepada Silfana. Karena hari ini sikap Silfana tidak seperti biasanya. “Sil ngomong dong! Jangan kaya gini,” aku berpikir sejenak, “apa sikapmu ini gara-gara kemarin di kolam renang? Jika ya, aku bisa jelasin kok.”
“Gak ada yang perlu dijelasin lagi.” Mata Silfana mulai berkaca-kaca.
“Tapi Sil, kamu coba ngertiin aku dong!”
“Ngertiin apa? Ngertiin kamu berduaan sama Glen dan Bayu kemaren? Aku tuh perih melihat itu, Via. Walupun kamu sahabat aku, tapi aku tak bisa melerakan cowok yang aku cintai berduaan dengan cewek lain, sekalipun itu sahabat aku.” Butir demi butir air mata membasahi pipinya. Silfana pun pergi. Tak butuh waktu lama air mata membasahi pipiku juga. Sungguh, aku telah menyakiti sahabatku.
Sesampainya di rumah, aku rebahkan badanku. Ucapan Silfana tadi terus terngiang di telingaku. Namun tiba-tiba, aku melihat selembar kertas berada di dalam tasku. Hatiku penasaran dan terus bertanya-tanya ‘surat apakah itu?’. Untuk menghilangkan rasa penasaranku, aku ambil kertas itu. Ternyata itu sebuah surat. Surat cinta dari Joy.



Pagi ini, tak seperti biasanya. Semua teman dekatnya Joy melirikku.
“Via, gimana Joy diterima gak?” Zack, salah seorang teman Joy bertanya padaku.
“Gak,” jawabku singkat. Karena aku hanya mencintai Glendy dan Bayu.
“Padahal waktu pertama si Joy masuk ke sekolah ini, dia sudah mulai tertarik loh sama kamu,” ucap Zack untuk meyakinkan.
“Oh,” jawabku sambil keluar kelas.
“Jutek amat sih,” kata Zack lagi.



Masa SMP pun berlalu. Aku masuk SMAN 3 Cakrawala. Silfana dan Ica masuk SMKN 1 Garuda. Glendy masuk SMAN 4 Cakrawala. Dan Bayu masuk SMKN 2 Garuda. Sehingga membuat aku, sahabat-sahabatku, dan orang-orang yang aku cintai berpisah. Tapi aku masih suka saling curhat dengan Ica. Karena rumah aku dan Ica tidak begitu berjauhan.
“Ca, kenapa ya sejak beda sekolah Silfana jadi benci sama aku? Itu terbukti karena dia suka mengirimkan SMS yang mencirikan kebenciannya padaku.”
“Gak tau deh. Tapi besok, di sekolah aku akan tanya langsung ke Silfana.”
“Makasih ya Ca.”
“Ya, sama-sama.”
Bayanganku langsung teringat pada masa lalu. Aku gak bisa melupakan Glendy dan Bayu. Padahal Glendy sama saja seperti laki-laki lainnya. Mungkin yang membedakannya yaitu tampangynya yang rupawan dan sikapnya yang cool. Sedangkan Bayu, dia baik, perhatian, keren, dan atlet sekolah. Tapi aku lebih sulit melupakan Glendy.



“Via, aku udah tau alasannya.” Suara Ica dengan bersemangatnya.
“Alasan apa Ca?” tanyaku heran.
“Alasan kenapa Silfana benci sama kamu.”
“Oyah? Apa alasannya?” tanyaku dengan penasarannya. Kami pun duduk disebuah teras rumah kosong.
“Alasannya karena Glendy dan Bayu mencintai kamu. Padahal kamu tau sendiri kan, kalau Silfana mencintai Glendy dan Bayu? Jadi dia cemburu sama kamu sampai akhirnya membenci kamu.”
“Hah, si Glendy mencintai aku? Aku gak percaya, soalnya dia tuh cuek banget.”
“Iya. Si Glendy suka curhat ke Silfana, dan menyuruh menyampaikan cintanya ke kamu. Mungkin itu yang membuat Silfana tertekan. Silfana juga tau kalau Bayu mencintaimu juga. Dan mungkin itu yang membuat Silfana lebih tertekan dan membencimu,” ucap Ica panjang lebar. Butir air mata mulai membasahi pipiku dan pipi Ica.
“Kenapa kamu nagis Ca?” tanyaku pada Ica.
“Kamu juga tau sendiri kan Vi, aku juga mencintai Bayu sama seperti kamu dan Silfana. Dan....,” derai air mata mulai membanjiri wajah Ica.
“Dan kenapa Ca?” tanyaku dengan penasaran.
“Dan kata Silfana, Joy juga mencintai kamu. Benarkah itu?”
“Ya,” jaawabku singkat.
“Kenapa kamu gak cerita dari dulu ke aku Vi?”
“Karena aku gak mau kamu sedih Ca. Dan kirain aku, kamu udah tau,” ucapku sambil membela diri. “Maafin aku Ca. Aku bukan sahabat yang baik. Kamu boleh membenciku. Karena aku memang pantas untuk dibenci sahabat-sahabatku. Dan....”
“Cukup. Cukup Via. Aku gak mau mendengarnya lagi. Itu masa lalu, biarlah berlalu. Aku gak akan membenci kamu. Aku akan selalu menjadi sahabat kamu. Sahabat yang selalu ada dikala suka dan duka,” ucap Ica dengan semangatnya.
“Sungguh Ica?”
“Ya. Kita akan menjadi sahabat untuk selamanya. Aku gak mau gara-gara percintaan, persahabatan kita renggang atau putus.”
Derai air mata yang membanjiri wajahku dan Ica pun, kini tergantikan dengan senyuman yang mengembang.




SELESAI